Tunai atau Pindai: Mampukah Pasar Tradisional Bertahan dengan Cara Baru?

 Penulis Luthfiisya Prasetya | Editor Alysha Zahra D.

Dari Pasar Soponyono, transformasi digital pelan-pelan mengubah cara pedagang dan pembeli bertransaksi. Namun, perjalanannya belum sepenuhnya mulus.

Pasar Soponyono (Luthfiisya Prasetya/telusurabaya.com)

Elis Afifah menempelkan selembar kertas berlaminasi di depan lapaknya. Sebuah kode QR berwarna merah muda yang kontras dengan deretan potongan ayam segar di bawahnya. Di Pasar Soponyono, perempuan berusia 42 tahun itu sudah dua tahun terakhir menyambut pelanggan dengan dua pilihan: tunai atau pindai.

"Sekarang lebih praktis, apalagi banyak pembeli yang memang sudah terbiasa pakai pembayaran digital," kata Elis, sambil melayani seorang ibu rumah tangga yang menyerahkan selembar lima puluh ribu.

Kios daging ayam Elis Afifah di pasar Soponyono

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) bekerja secara sederhana: satu kode QR untuk semua aplikasi dompet digital dan mobile banking. Tak perlu mesin EDC, tak perlu kembalian, tak perlu hitung-hitung recehan. Bank Indonesia merancangnya sebagai standar tunggal untuk menggantikan fragmentasi sistem pembayaran digital yang sebelumnya terpecah-pecah.

Ayu, mahasiswa yang rutin berbelanja di Pasar Soponyono, mengaku jarang lagi membawa dompet berisi uang tunai. "Lebih enak pakai QRIS, nggak perlu bingung uang kembalian. Tinggal scan, langsung selesai," ujarnya.

Pernyataan itu bukan anomali. Ia mencerminkan pergeseran generasional: konsumen muda yang membawa ponsel sebagai dompet, dan pasar tradisional yang mau tidak mau harus belajar berbicara dalam bahasa baru itu.

Elis mengakui bahwa keputusannya beralih ke QRIS bukan semata dorongan ideologis soal inklusi keuangan. Alasannya lebih pragmatis: ia tidak ingin kehilangan pembeli. "Penjualan juga terasa naik, mungkin karena pembeli jadi lebih mudah dan cepat saat bayar. Jadi nggak perlu mikir bawa uang cash," katanya.

Namun digitalisasi di pasar tradisional tidak berjalan tanpa hambatan. Tidak semua pedagang memiliki literasi digital yang cukup untuk merasa nyaman dengan sistem ini. Kekhawatiran soal kesalahan transaksi, koneksi internet yang tidak stabil, hingga keengganan meninggalkan kebiasaan lama masih menghantui sebagian besar yang belum beralih.

Kepercayaan menjadi variabel krusial. Pedagang yang belum pernah menggunakan sistem digital cenderung skeptis. Bukan karena tidak mau berubah, melainkan karena tidak ada jaminan bahwa perubahan itu aman bagi mereka.

Di Pasar Soponyono, transaksi QRIS dan transaksi tunai kini berjalan berdampingan. Suara tawar-menawar masih sama, keramaian khas pasar masih terasa, yang berubah hanya cara uang berpindah tangan.

Dalam jangka panjang, digitalisasi ini berpotensi mengubah lebih dari sekadar metode pembayaran. Rekam transaksi otomatis, kemudahan memantau pemasukan, hingga akses ke layanan keuangan formal adalah nilai tambah yang secara perlahan mulai dipahami para pedagang.

Elis belum memikirkan sejauh itu. Hari ini, ia cukup puas mendengar notifikasi masuk di ponselnya setiap kali ada pelanggan yang memindai kode QR di depan lapaknya, bunyi kecil yang menandakan bahwa pasar, bagaimanapun caranya, terus bergerak maju.

Infografis Perbandingan


Posting Komentar

0 Komentar