Menantang Zaman di Lampu Merah Kertajaya: Kisah Tini Menyambung Asa Lewat Lembaran Koran

 

Penulis dan Infografis: Erlinda Novia Wulandari
Editor: Devinta Maharani

 

Potret diri ibu Tini penjual koran di lampu merah kertajaya, Senin (1/6). (Foto: Erlinda Novia/Telusurabaya.com) 

 

SURABAYA, 1 Juni 2026 – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Lampu Merah Kertajaya, Surabaya, Tini (76) tampak berjalan menawarkan koran kepada para pengendara yang berhenti saat lampu merah menyala. Dengan sepeda ontel tuanya, ia menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam setiap hari demi menyambung hidup dan membiayai pendidikan anaknya yang masih bersekolah di SMK.

Sejak pukul 06.00 WIB, Ibu Tini berangkat membawa sekitar 25 eksemplar koran di dalam keranjang depan sepedanya. Ia baru pulang sekitar pukul 16.30 WIB setelah berjualan seharian di tengah lalu lalang kendaraan. Koran yang dijualnya dibanderol seharga Rp7.000 per eksemplar dengan penghasilan harian yang tidak menentu, berkisar antara Rp80.000 hingga Rp100.000.

Setibanya di lokasi, Ibu Tini berjalan kaki menawarkan koran kepada para pengendara setiap kali lampu lalu lintas berwarna merah. Ketika lampu berubah hijau dan kendaraan mulai bergerak, ia segera menepi ke pinggir jalan untuk menjaga keselamatannya sebelum kembali menawarkan koran pada siklus lampu berikutnya.

Deru kendaraan dan suara klakson bersahut-sahutan mengiringi langkah Ibu Tini saat berpindah dari satu lajur ke lajur lainnya. Di tengah padatnya arus lalu lintas, ia terus menawarkan koran dengan sabar kepada para pengendara yang berhenti sejenak di persimpangan.

Meski harus berdiri dan berjalan selama berjam-jam di bawah terik matahari, Ibu Tini tetap terlihat ramah kepada setiap pengendara yang ditemuinya. Raut lelah sesekali tampak di wajahnya, namun senyum tidak pernah lepas saat ia menyapa dan menawarkan koran kepada calon pembeli.

“Setiap hari harus kejual, Nak. Kalau ndak kejual, nggak iso pulang. Kalau mau pulang belum laku ya harus dibeli sendiri,” ujarnya.

Ibu Tini telah menjalani profesi sebagai penjual koran sejak 2019, sebelum suaminya meninggal dunia. Kini, ia menjadi tulang punggung keluarga dan tinggal bersama anak semata wayangnya.

Dalam menjalankan pekerjaannya, Ibu Tini kerap menghadapi berbagai tantangan. Saat hujan turun, ia tetap berjualan dengan melindungi koran dagangannya menggunakan kantong plastik agar tidak basah dan rusak.

Perjuangan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada 2025 lalu, Ibu Tini pernah mengalami kecelakaan saat berjualan. Ia ditabrak hingga mengalami patah tulang pada tangan yang membuatnya tidak dapat banyak bergerak selama beberapa waktu.

“Yang nabrak cuma minta maaf di atas motor, terus langsung terus pergi ngunu ae,” kenangnya.

Meski demikian, pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah. Baginya, pendidikan anak menjadi alasan utama untuk terus bekerja dan bertahan.

Ia berharap anaknya dapat menyelesaikan pendidikan hingga tuntas dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya.

“Yang penting anak saya sekolah sampai selesai. Jangan sampai ketinggalan pendidikan seperti ibunya,” tuturnya.

Di tengah perkembangan teknologi yang membuat jumlah pembaca koran terus menurun, Ibu Tini masih setia menjajakan lembar demi lembar koran di pinggir jalan. Dengan sepeda ontel tua dan semangat yang tak pernah surut, ia terus mengayuh harapan di setiap perjalanan. Bagi Ibu Tini, setiap koran yang terjual bukan hanya bernilai rupiah, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangannya untuk mengantarkan sang anak menuju masa depan yang lebih baik.


Infografis Waktu (TimeLine) 



Posting Komentar

0 Komentar