Editor oleh Wibiana Putri Rachmadani
C2o lahir
bukan hanya sebagai tempat untuk menyimpan buku. "Misi kami adalah untuk
menciptakan ruang, alat dan materi bagi manusia (dan bukan manusia) untuk
belajar, bekerja, berkarya dan berinteraksi dengan beragam komunitas dan
lingkungan sekitarnya, berlandaskan pikiran dan tindakan yang terbuka dan
kritis." Demikian tertulis dalam halaman resmi perpustakaan ini.
Sebuah visi yang tidak kecil untuk sebuah rumah bercat sederhana.
Kini, lebih dari 17 tahun setelah berdiri, C2O tetap eksis dan relevan. Di bawah pengelolaan Yayasan PERINTIS (Pendidikan Rangkai Informasi & Teknologi Swadaya), perpustakaan ini terus membuka pintunya setiap Rabu hingga Minggu, pukul 11.00 hingga 21.00 WIB. Salah satu penjaga perpustakaan menekankan bahwa ada hari kerja tersendiri untuk C2O, "Kita libur di hari senin, selasa dan tanggal merah, sisanya kita buka terus sampai jam sembilan malam." Ujarnya.
Masuk ke dalam, pengunjung akan disambut barisan rak buku yang tertata rapi di lantai pertama. Koleksinya mencapai lebih dari 7.000 judul, buku, jurnal, dan berbagai media lain dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing, mencakup topik mulai dari filsafat, seni, sastra, teknologi, hingga kajian budaya. Anggota perpustakaan dapat meminjam buku secara gratis untuk dibaca di tempat, atau dibawa pulang. Bagi yang belum menjadi anggota, buku-buku tersebut tetap bisa dinikmati di dalam ruangan.
Naik ke lantai dua, suasana berubah menjadi ruang kerja bersama (coworking space). "Kalau mau bisa bayar Rp35.000 per hari, nanti pengunjung akan dapat akses Wi-Fi, printer, fotocopy sama minuman teh dan kopi yang bisa diambil sendiri sepuasnya." Ujar salah satu penjaga perpustakaan. Yang membuat C2O istimewa bukan hanya koleksi bukunya, melainkan denyut kehidupan komunitasnya. Ruang serbaguna di dalamnya kerap menjadi panggung diskusi buku, pemutaran film, lokakarya, kelas bahasa, pameran, hingga festival.
C2O juga menjadi rumah bagi berbagai komunitas yang bernaung di bawahnya, mulai dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Sindikasi Jawa Timur, Undisputed Poetry (komunitas spoken word), hingga kelompok-kelompok desain dan kesehatan publik. Bagi banyak warga Surabaya koleksi bukunya luar biasa untuk ukuran perpustakaan independen, tulis seorang pengunjung dalam ulasannya.
Di era ketika
banyak ruang komunitas tergerus oleh komersialisasi dan pandemi, C2O memilih
bertahan dengan model swadaya dan keanggotaan. Dukungan dari anggota,
pengunjung, dan berbagai mitra adalah napas yang menghidupkannya.
C2O
membuktikan bahwa sebuah ruang literasi yang dikelola dengan penuh dedikasi dan
nilai komunitas yang kuat dapat bertahan melampaui tren. Ia adalah bukti hidup
bahwa Surabaya menyimpan warganya yang percaya pada kekuatan membaca,
berdiskusi, dan berkolaborasi.



0 Komentar