Satu Meja, Seribu Rasa: Menilik Riuh Kuliner Malam dan Hangatnya Ruang Komunal di Pujas KTT Surabaya

Penulis dan Infografis oleh Amorita Azzahra

Disunting oleh Alysha Zahra Dewantoro

Pujasera Kertajaya Indah Timur (Pujas KTT) ( Amorita Azzahra/telusurabaya.com)

SURABAYA, telusurabaya.com – Jarum jam baru menunjukkan pukul 19.00 WIB, namun kepulan asap beraroma gurih sudah membubung tinggi di udara Pujasera Kertajaya Indah Timur (Pujas KTT). Suasana di destinasi kuliner Surabaya Timur ini sudah menyerupai puncak malam minggu. Di bawah pendar lampu yang benderang, sayup-sayup terdengar suara gelak tawa beradu dengan lantunan lagu dari speaker karaoke yang dinyanyikan segerombolan mahasiswa dengan lantang. Alih-alih sepi, tempat ini justru menjelma menjadi ruang komunal sekaligus surga makanan yang paling hidup.

Pujas KTT bukan sekadar tempat darurat untuk mengisi perut yang keroncongan. Bagi ribuan mahasiswa dari ITS, PENS, PPNS, Universitas Hang Tuah, UNAIR, hingga UPN, tempat ini adalah rumah kedua tempat pelarian dari penatnya ruang kelas dan tumpukan tugas kuliah.

Sajian Multikultural: Dari Gurihnya Nasi Arab Hingga Candu Mie Ayam

    Masuk ke kategori Food, Pujas KTT adalah definisi nyata dari akulturasi rasa yang ramah di kantong. Pilihan menunya terhampar sangat beragam, siap memanjakan lidah siapa saja. Pengunjung bisa mencicipi Nasi Goreng Lamongan dengan aroma smokey wajan yang khas, Steak versi murah dengan siraman saus barbekyu yang kental, hingga Nasi Gulai Kambing yang kaya akan rempah kapulaga dan jinten.

    Menariknya, bagi pencinta kuliner Timur Tengah, ada pula stan Nasi Arab khas Ampel yang menyajikan nasi bumbu gurih beraroma harum. Tak ketinggalan, aroma kuah kaldu dari duet legendaris Mie Ayam Jakarta dan Mie Ayam Bangka turut memadati udara, memicu air liur siapa saja yang baru datang melintas.

    Salah satu bintang utama kuliner malam ini adalah sebuah kedai mie ayam yang antreannya luar biasa mengular. Bayangkan saja, baru jam 7 malam, pengunjung sudah harus mengantre hingga 10 orang demi bisa mendapatkan giliran. Pilihan jatuh pada sepiring Mie Ayam Pangsit Bakso Pentol seharga Rp18.000. Mi yang kenyal dipadukan dengan potongan ayam berbumbu manis-gurih, disiram kuah hangat, lengkap dengan pentol bakso yang berdaging serta pangsit basah yang lembut. Kombinasi rasa yang sangat sepadan dengan waktu mengantre.

    Faktor variasi makanan dan harga yang bersahabat ini diakui betul oleh Rahman, mahasiswa PPNS semester 4 yang malam itu sedang asyik menikmati makan malamnya.

"Urusan perut mahasiswa itu nomor satu yang penting murah, enak, dan porsinya mengenyangkan. Di KTT, pilihannya banyak banget dari yang lokal sampai nasi arab ada. Kantong aman, perut kenyang, plus bisa sekalian lihat keanekaragaman jahim warna-warni kampus lain," pungkas Rahman.

    Bagi mahasiswa yang dompetnya sedang di fase "kritis" akhir bulan, KTT tetap menjadi penyelamat yang sangat pengertian. Cukup merogoh kocek sebesar Rp12.000, seporsi Penyetan Telur hangat dengan sambal korek yang pedasnya nendang sudah siap menyelamatkan lambung yang lapar.

Warna-Warni Jahim, Tumpukan Laprak, dan Papan Catur

Pujasera Kertajaya Indah Timur (Pujas KTT) ( Amorita Azzahra/telusurabaya.com)

Sejauh mata memandang, KTT malam ini dipenuhi oleh warna-warni Jaket Himpunan (Jahim) kebanggaan tiap kampus. Namun uniknya, kesibukan akademik tidak ditinggalkan begitu saja di kosan. Di beberapa sudut meja, tampak mahasiswi yang datang membawa laptop besar, lengkap dengan tumpukan kertas laporan praktikum (laprak) yang sedang dikerjakan bersama kelompoknya.

Ngerjain tugas di tengah aroma makanan dan riuhnya suara karaoke ternyata punya keasyikan tersendiri bagi Ayu, mahasiswi ITS semester 2 yang malam itu datang memboyong tugas-tugas kuliahnya.

"Kalau ngerjain laprak di kosan terus itu rasanya jenuh banget, Mbak. Makanya sengaja ke KTT bareng temen-temen buat kerkel sambil makan malam. Meskipun ramai dan suara sound-nya lumayan keras buat karaoke, justru vibes bising dan aroma makanan di sini bikin gak ngantuk buat ngetik," cerita Ayu sambil tertawa kecil.

Menariknya, ruang kuliner ini tidak eksklusif untuk anak kuliahan saja. Di antara riuhnya obrolan mahasiswa, terlihat pula pasangan suami istri yang sedang menikmati seporsi mie ayam oke dan bakso, hingga bapak-bapak yang asyik bersantai menikmati kopi hitam.

Keunikan lain yang jarang ditemui di tempat lain adalah tersedianya papan catur kayu di atas meja-meja panjang pujasera. Fasilitas sederhana ini disediakan gratis agar mahasiswa atau pengunjung yang bosan bisa saling beradu strategi sambil menunggu pesanan makanan mereka matang diolah penjual.

Pujasera Kertajaya Indah Timur (Pujas KTT) ( Amorita Azzahra/telusurabaya.com)

Dhika, mahasiswa PPNS semester 4, terlihat sedang asyik memindahkan pion caturnya saat kami temui di lokasi.

"Fasilitas catur di meja ini juara sih buat ngusir gabut kalau makanan lagi antre lama kayak mie ayam tadi. Menurutku KTT itu tempat kuliner paling enak di Surabaya Timur. Gak cuma anak kuliahan, bapak-bapak atau keluarga juga enjoy makan di sini. Semua membaur karena makanannya enak semua," tutur Dhika hangat.

Makin malam, Pujas KTT justru makin menolak untuk tidur. Ia terus berdenyut hangat, menampung lelahnya tugas kuliah, gelak tawa kebersamaan lintas kampus, serta cita rasa kuliner murah yang selalu berhasil membuat siapa saja rindu untuk kembali datang esok malam.

Infografis Perbandingan Steak dengan  Mie Ayam

Posting Komentar

0 Komentar