Penulis oleh Wibiana Putri Rachmadani
Editor oleh Linggar Apritataqwa
![]() |
| Event Thrift Cuan Market: Suroboyo Pride, di AJBS Home Centre Ngagel Surabaya |
SURABAYA - Tren thrifting atau berburu pakaian bekas layak pakai semakin digemari oleh generasi muda, khususnya Gen Z di Surabaya. Salah satu lokasi yang selalu ramai setiap ada event adalah kawasan ABJS Home Centre Ngagel, yang setiap ada event selalu ramai penuh pengunjung.
Sejak hari pertama, ratusan anak muda sudah memadati area tersebut untuk mencari outfit unik dengan harga terjangkau. Berbagai jenis pakaian dijual, mulai dari kaos vintage, jaket denim, hoodie, hingga celana dengan gaya streetwear yang sedang tren. Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya minat Gen Z terhadap fashion yang lebih ekspresif namun tetap hemat. Thrifting dianggap sebagai solusi untuk tampil keren tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Salah satu pengunjung, Elen (20), mengaku rutin datang ke pasar loak ini setiap Minggu.“Menurutku thrifting itu seru banget, karena kita bisa nemuin barang yang nggak ada di toko biasa. Kadang malah dapet yang branded atau vintage dengan harga murah,” ujarnya.
Elen, juga menjelaskan bahwa thrifting bukan hanya soal belanja, tetapi juga pengalaman. “Di sini tuh vibes-nya beda. Kita harus sabar ngubek-ngubek, tapi justru itu yang bikin nagih. Ada rasa puas sendiri kalau berhasil dapet barang bagus dengan harga miring,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa tren thrifting juga berkaitan erat dengan gaya hidup dan media sosial.
“Sekarang banyak anak muda yang pengen tampil beda. Thrifting jadi cara buat punya style yang lebih unik. Apalagi kalau di-post di Instagram atau TikTok, pasti lebih menarik karena outfit-nya nggak pasaran,” jelasnya. Selain faktor gaya, harga yang terjangkau juga menjadi alasan utama. Dengan uang yang relatif sedikit, pengunjung bisa mendapatkan beberapa item sekaligus. Hal ini membuat thrifting semakin populer di kalangan pelajar dan mahasiswa.
![]() |
| Pengunjung Berburu Pakaian Thrift di Salah Satu Store |
Di samping itu, perkembangan tren ini juga didorong oleh media sosial. Banyak anak muda tertarik tampil beda dengan outfit thrift yang dianggap lebih unik dan tidak pasaran. Hal ini membuat permintaan terhadap pakaian bekas terus meningkat dari waktu ke waktu.
Meskipun thrifting sering dipandang sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan kembali pakaian, dampaknya terhadap pelaku usaha lokal tetap perlu diperhatikan. Tanpa adanya keseimbangan, UMKM berisiko kehilangan pasar di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Oleh karena itu, fenomena ini menjadi perhatian bagi berbagai pihak. Diperlukan strategi yang tepat agar tren thrifting dapat terus berkembang tanpa harus mengorbankan keberlangsungan UMKM lokal di Surabaya.



0 Komentar