Penulis oleh Devinta Maharani
Editor oleh Farras Syakira Ardiyanti
![]() |
| Balai RW Kampung Lawas Maspati, 21 Mei 2026 Devinta/Telusurabaya |
Berawal dari mengikuti lomba Green and Clean Tingkat kota pada 2012-2013 lalu, yang berlanjut dirawat hingga kini.
Kampung ini berada di Jalan Maspati Gang VI, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Kampung lawas maspati ini menjadi kawasan wisata heritage sejak 2013 dan diresmikan pada 2016 oleh Wali Kota Surabaya, Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T.
Contohnya penanaman Belimbing Wuluh, bukan hanya buahnya yang di konsumsi warga, tetapi bunganya dimanfaatkan untuk obat batuk herbal. Selain itu, tanaman kaktus sukulen dan sansivera (lidah mertua) sengaja di budidayakan karena bermanfaat untuk menyerap polusi udara.
![]() |
| Budidaya Kaktus Sukulen dan Sansivera, 21 Mei 2026 Devinta/Telusurabaya |
“Penelitian dari NASA bahkan menyebutkan tanaman kaktus sukulen dan sansivera ini efektif untuk menyerap radiasi,” ujar Dhani, pemandu wisata lokal.
Tak
hanya di Lorong gang, Balai RW di Kampung Lawas Maspati juga menjadi pusat pengelola
sampah organik maupun sampah plastik.
“Selain mengolah sampah organik, kita membuat lubang biopori untuk mencegah banjir sekaligus menghasilkan kompos. Ada juga Granul yaitu pupuk kering campuran kompos, tepung tapioka, sama cakang telur yang dihaluskan,” jelas Dhani.
Tak
hanya itu, menyadari keterbatasan lahan warga Kampung Lawas Maspati menerapkan
sistem Budidamber (budi daya ikan dalam ember) atau akuaponik. Budidaya ikan
lele di dalam ember dengan penutup yang dijadikan tempat penanaman untuk sayur kangkung.
Melalui semangat gotong royong warga Kampung Lawas Maspati, membuktikan bahwa sejarah dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan.
![]() |
| Infografis Proses Pelestarian Lingkungan Kampung Lawas Maspati |


.png)
0 Komentar