Jembatan Merah Plaza Menyisakan Cerita di Tengah Sepinya Kota

Penulis dan Infografis oleh Shofiyyah

Disunting oleh Luthfiisya Prasetyanigrum


Jembatan Merah Plaza, 22 Mei 2026 (Shofiyyah/telusurabaya.com)


Surabaya—Di tengah kabar penutupan Jembatan Merah Plaza (JMP), aktivitas di kawasan Kota Lama Surabaya masih terlihat, terutama di area parkir yang yang masih beroperasi. Meski tak lagi seramai dahulu, sebagian pekerja masih menggantungkan hidupnya di tempat ini sejak puluhan tahun lalu.

Bangunan tua dengan lorong-lorong yang kini lebih lengang menjadi saksi perubahan waktu. Di beberapa sudut, suara kendaraan yang keluar-masuk area parkir masih terdengar, berpadu dengan langkah kaki pengunjung yang datang silih berganti, meski jumlahnya tidak banyak.

Hamzami, seorang satpam yang telah bekerja sejak 2002, menjadi salah satu saksi hidup perjalanan panjang JMP. Ia mengingat betul bagaimana pusat perbelanjaan ini pernah menjadi salah satu yang paling ramai di Surabaya.

Namun, kondisi tersebut berubah sejak pandemi COVID-19 melanda. Banyak toko memilih tutup karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus, sehingga perlahan aktivitas di dalam gedung ikut menurun.

“Mulai banyak yang sakit, jadi sepi gara-gara COVID. Banyak yang jualan keluar, tokonya ditutup karena takut,” ujarnya.

Meski begitu, kawasan ini tidak sepenuhnya kehilangan aktivitas. Berbagai acara seperti bazar, pameran, hingga kegiatan buka puasa bersama kerap digelar di area depan gedung dan kembali menghadirkan keramaian, meski hanya sementara.

Hamzami menjelaskan bahwa keberadaan acara tersebut cukup membantu menjaga keramaian, meskipun hanya dalam waktu tertentu. “Kalau ada event, selalu ramai. Kadang dua minggu, kadang cuma tiga sampai lima hari,” katanya.

Pada malam hari, suasana kawasan justru sedikit berbeda. Beberapa pengunjung datang untuk sekadar berjalan-jalan atau mengambil foto, terutama saat akhir pekan. Aktivitas ini membuat area sekitar tetap hidup, meski tidak seperti masa kejayaannya dahulu.

Di sisi lain, perubahan fungsi juga terjadi pada kawasan ini. Selain sebagai pusat perbelanjaan, JMP kini turut berperan sebagai area penunjang bagi kawasan Kota Lama yang sedang dikembangkan.

Sony Suhantoko, satpam yang telah bekerja sejak 2003, menjelaskan bahwa tidak seluruh bagian JMP berhenti beroperasi. Ia menyebutkan bahwa yang tutup adalah bagian JMP 2 karena kontrak yang tidak diperpanjang akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Sementara itu, JMP 1 masih dikelola dan tetap beroperasi, meskipun aktivitasnya tidak seramai dahulu. Hal ini membuat kawasan tersebut masih memiliki fungsi, terutama sebagai area parkir yang aktif setiap hari.

“Mal-nya buka dari jam sembilan sampai jam lima. Namun, parkirannya sampai 24 jam karena kerja sama dengan pemerintah kota untuk kawasan Kota Lama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sistem pengelolaan parkir kini dilakukan dengan lebih terarah. Setiap kendaraan yang masuk akan ditanyakan tujuannya, apakah untuk ke mal atau menuju kawasan Kota Lama.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kepadatan kendaraan di area tertentu. Dengan pengaturan ini, arus keluar-masuk kendaraan tetap terjaga meskipun fungsi kawasan telah berubah.

“Kadang orang datang tidak tahu tujuannya ke mana, jadi kita tanyakan dulu. Supaya bisa diarahkan dan tidak terjadi penumpukan,” ungkapnya.

Perubahan wajah Kota Lama yang kini lebih tertata juga turut memengaruhi kondisi di sekitar JMP. Kawasan yang dulunya dikenal padat dan kurang teratur, kini terlihat lebih bersih dan nyaman bagi pengunjung.

Meski demikian, perubahan tersebut belum sepenuhnya mengembalikan suasana ramai seperti dahulu. Aktivitas di dalam gedung masih terbatas, sementara kehidupan lebih banyak berpindah ke area luar.

Bagi para pekerja seperti Hamzami dan Sony, tempat ini bukan sekadar lokasi bekerja, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Mereka berharap JMP dapat kembali menghadirkan keramaian seperti masa lalu. Tidak hanya untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga untuk menghidupkan kembali kenangan yang pernah ada di dalamnya.

Ke depan, harapan tersebut bergantung pada berbagai upaya pengembangan kawasan dan kebijakan yang diambil. Dengan potensi yang masih dimiliki, bukan tidak mungkin JMP kembali menjadi ruang yang ramai dan berarti bagi masyarakat Surabaya.


Infografis Perjalanan Jembatan Merah Plaza


Posting Komentar

0 Komentar